7 Keajaiban Rezeki

Kebetulan dalam bahasa Inggris, ‘kanan’  dan ’benar’ itu diterjemahkan jadi ‘right’. Mungkin ini isyarat, kanan itu memang benar. Kebetulan pula, ‘kiri’ dan ‘ketinggalan’ itu sama-sama diterjemahkan jadi ‘left’. Mungkin ini isyarat, kiri itu memang ketinggalan (56)
Kutipan diatas hanyalah satu dari beberapa kebetulan yang dengan cemerlang dapat ditemukan Ippho Santosa mengenai ‘pledoi’ mengapa kanan lebih baik ketimbang kiri. Pledoi itu tertuang dalam buku motivasi bertajuk 7 Keajaiban Rezeki: Rezeki Bertambah, Nasib Berubah, dalam 99 Hari  dengan Otak Kanan. Kebetulan lain yang ia temukan adalah rambu-rambu “Gunakan lajur kanan untuk mendahului”, dan “Gunakan lajur kiri untuk jalur lambat”. Mungkin ini pula isyarat bahwa untuk mendahului pesaing gunakan otak kanan, gunakan otak kiri kalau ingin ditinggalkan oleh pesaing.
Dengan pledoi itu, Ippho sedang ingin mengetengahkan kehadapan pembaca bukunya, mengenai sebuah konsep berpikir dan bertindak dengan mengutamakan fungsi otak kanan. Ippho mengakui bahwa ia adalah satu dari sedikit motivator di Indonesia yang memilih untuk berpihak ke kanan (mengutamakan otak kanan). Bahkan ia berani mengatakan bahwa untuk hijrah ke sisi kanan dalam Cashflow Quadrant-nya Robert Kiyosaki, maka otak kanan harus diasah. Ippho berkeyakinan bahwa kesuksesan memerlukan peranan EQ(otak kanan) sekitar 80% dan IQ(otak kiri) 20%. Maka yang dibutuhkan adalah dominan kanan, bukan seimbang kanan kiri.
Dalam konsep Ippho, keseimbangan dalam sebuah tim menuntut seorang pemimpin yang dominan kanan, karena ia akan lebih visioner, kreatif, intuitif, impulsif, berpikir holistik, empati ke semua pihak, dan memahami yang tersirat. Dibawahnya, manajer madya adalah mereka yang memiliki keseimbangan otak kanan-kiri, memahami detil, kalkulasi, fokus, dengan keseimbangan kreatifitas, intuisi, dan impati. Sedangkan yang perlu memahami dan menguasai detil dengan penuh adalah para bawahan. (54). Dengan konsep ini, Ippho ingin mengajukan hipotesa bahwa siapapun yang ingin menjadi pemimpin, ingin maju, sukses, dan meraih impiannya maka ia mesti mengoptimalkan kerja otak kanannya. Golongan Kanan melakukan sesuatu karena panggilan jiwa, bukan panggilan kerja. Sepenuh hati, bukan sepenuh gaji, begitu kata Ippho.
Untuk menguraikan cara-cara berpikir otak kanan itu, Ippho memberikan 3 kunci. Kunci pertama adalah penguatan diri, ia menyebutnya Sidik Jari Kemenangan (Lingkar Diri). Ini adalah sebuah langkah dimana seseorang merumuskan cita-cita, harapan, impiannya. Disini Ippho mencoba membangun keyakinan pembaca bahwa kesuksesan adalah milik siapa saja. Karena bagi Tuhan Yang Maha Kuasa, tak ada yang mustahil. Maka pegang kuat-kuat keyakinan akan impian itu. Mengucapkannya sering-sering, membayangkannya terus menerus, menancapkannya dalam pikiran, akan mendorong pada kesadaran batin dan pikiran untuk berusaha mewujudkannya. Setelah itu baru berupaya untuk membuat diri menjadi layak mendapat, meraih impian itu. Kerja keras, dedikasi, integritas, dan kesungguhan adalah kuncinya.
Kunci kedua adalah membangun hubungan baik dengan sekitar, Ini bertolah pada hukum Law of Attraction (LOA), apa yang kau beri itulah yang kau dapat. Ippho menyebut orang tua di urutan teratas untuk menjadi bagian yang layak mendapat perlakuan baik. Ia menyebutnya sebagai Sepasang Bidadari (Lingkar Keluarga). Disini, Ippho ingin menegaskan bahwa orang tua adalah bagian dari kehidupan yang mesti dijaga keseimbangan hubungannya.
Agama manapun pasti menyebutkan tentang urgensi orang tua sebagai sosok yang mesti dihormati, dihargai, dan dijagai karena dari merekalah bermula kehidupan seorang anak manusia. Tak perlu menunggu sukses, baru bisa menyenangkan orang tua, tak perlu menunggu kaya, baru memberi perhatian orang tua. Balikkan, kata Ippho. Berbuat baik dulu pada orang tua, kaya dan sukses mengikuti. Restu mereka adalah Doa. Ini berpikir cara kanan, kesuksesan dilihat dengan keajaiban. Sesuatu yang menjadi rahmat atas perbuatan dan sikap baik. Bukan semata sebuah perencanaan yang baik atas angka-angka.
Kunci ketiga adalah hubungan baik dengan Tuhan. Simak cara Ippho menguraikan kedekatan dengan Tuhan sebagai sebuah titik tolak spiritual a la Facebook: Pertama, Tuhan mesti Anda add sebagai friend. Terus, banyak-banyaklah ganti status dengan Dia. Terus, banyak-banyaklah komunikasi wall to wall dengan Dia. Nah, begitu Anda sudah akrab, mudah-mudahan Anda akan sering mendapat notification dari Dia, sehingga intuisi Anda lebih peka terhadap sesuatu atau sesorang.
Uraian diatas menarik dan mudah difahami. Karena memang demikian gaya bahasa yang digunakan Ippho; renyah, lugas, dan humoris. Lihat saja bagaimana ia menulis: Gimana sih caranya agar kita bisa akarab dengan Dia? Yah, cobalah bisnis modal dengkul dan bisnis modal jidat. Modal dengkul maksudnya sering-sering bersimpuh. Modal jidat maksudnya sering-sering bersujud. Pembaca akan sering dibuat tertawa karena gaya penulisan Ippho ini memang enak disimak, tidak seperti buku motivasi umumnya yang kaku dan menggurui. Gaya tutur ini membuat pembaca diajak berpikir, menganalisa, dan membuat keputusan sendiri. Ada keintiman interaksi antara penulis dengan sidang pembaca melalui cara penulisan komunikatis seperti ini.
Interaksi dengan pembaca itu juga dibangun dengan berbagai pembenaran disertai bukti-bukti logis untuk mengajak pembaca menganggukkan kepala tanda setuju. Ippho membeberkan tentang apa perlunya bersedekah sekarang atau nanti, banyak atau sedikit. Ippho juga menguraikan apa perlunya menjadi seseorang atau sesuatu yang khas, beda, unik.  Dan tentu saja, seruan ibadah itu tak terlewatkan. Manusia sukses adalah mereka yang dekat dengan Tuhannya melalui cara masing-masing. Ippho menawarkan beberapa cara sesuai yang diajarkan Islam.
Ippho memang layak menyandang sebutan motivator, ia handal dalam berdagang. Konsep menjadi pedagang ini pula yang ia tawarkan sebagai sebuah solusi dari kejumputan berpikir atas masalah pendapatan penghasilan. Ippho menghadirkan kisah-kisah dan logika-logika sehingga berdagang menjadi pilihan yang mestinya tak terbantahkan. Secara implisit, ia menunjukkan bagaimana caranya berdagang, menjual lebih banyak, lebih mahal dan lebih cepat itu. Perhatikan bagaimana ia memberikan sebuah bab khusus dalam buku ini yang ia sebut Bonus Langsung 1.350.000.
Bab dengan hanya 4 halaman itu sesungguhnya adalah semacam brosur pemasarannya. Di sana berisi tentang kandungan CD motivasi yang menyertai buku ini (200 ribu). Kalender,poster,sticker motivasi (100 ribu). Lagu motivasi (50 ribu), serta konsultasi pribadi senilai 1 juta. Bukan hanya itu, disini juga ada kode nada sambung pribadi yang bisa dipasang dalam ponsel. Selain itu, dalam setiap bab, saat memberikan tips, ia juga tak henti-henti menyeru agar pembaca yang merasa termotivasi dengan buku ini supaya meminjamkan atau membelikan buku ini kepada orang lain yang dianggap perlu. Sebuah strategi pemasaran yang sederhana tapi cukup nyata. Dalam tempo 3 bulan, buku ini cetak ulang 7 kali!
Tak ada gading yang tak retak, begitu juga dengan Gading Marten (ini kata Ippho), buku ini menyimpan pula cacat retak disana sini. Endorsement alias testimoni yang sampai 12 halaman di awal dan 10 halaman di akhir membuat semua terasa berbusa-busa. Barangkali ini menjadi khas buku motivasi. Tapi 22 halaman rasanya berlebihan.
Kemudian gambar-gambar yang dihadirkan dalam buku ini terkesan dipaksakan. Terkadang korelasinya tidak jelas antara gambar dan topik bahasan. Ukurannya yang kecil dengan cetakan hitam putih membuat gambar semakin kehilangan makna. Buat apa ada gambar jika tak memberi manfaat bagi pembaca, setidaknya memanjakan mata atau memperjelas teks.
Selain itu, margin kanan dan kiri yang tidak berimbang luasnya menyempitkan kesempatan pembaca untuk membuat coretan ditepian buku. Sebagai sebuah buku motivasi, hendaknya pembaca diberi ruang gerak untuk menuangkan pengalamannya dalam coretan sebagai catatan kesan proses pembacaannya. Terakhir, daftar isi yang tidak memuat sub bab, menjadikan pembaca yang ingin membaca ulang mesti membolak-balik halaman mencari bab apa di bagian mana.

Selebihnya, buku ini cocok bagi siapa saja yang butuh motivasi dan petunjuk tentang bagaimana meraih impian, cita-cita, dan keluar dari masalah-masalah yang selama ini dirasa membuat kehidupan jalan di tempat. Rubah cara berpikir, perbaiki kualitas anda hingga layak mendapat impian itu. Perbaiki hubungan sesama, dan dekatkan diri pada Tuhan. Memberilah sebanyak-banyaknya karena kau akan mendapat yang setara dengannya. Rayakan hidup, dan bernyanyilah seperti arek Suroboyo, “Right…ayo Right…, mlaku mlaku nang Tunjungan…”

This entry was posted in Motivasi and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*